Optimus

Optimus dalah anak pertama yang akan gue bahas di tulisan gue ini.
Kenapa Optimus? Karena doi adalah anak yang paling sering berinteraksi dengan gue setiap hari.
Optimus ini adalah seorang anak laki-laki berusia 8 tahun yang sangat suka membaca.
Rasanya, segala jenis bacaan bakal doi sikat, selama bacaan tersebut ada gambarnya.
Kalau anak gue yang lain suka lari, kejar-kejaran sama temen-temennya, doi lebih suka duduk di pojokan, baca buku, sambil minum dengan botol minum kesukaannya yang bertutup merah, bertali biru tua.

Setiap pagi, doi akan masuk ke kelas dengan menjinjing sebuah buku, map biru, dan botol minumnya. Setelah doi menaruh semua bawaannya di tempat masing-masing, mulai deh tuh doi menunjukkan bukunya ke gue atau partner gue. Buku-buku yang doi bawa biasanya bagus-bagus, ada tentang organ tubuh manusia, tentang alam semesta, tentang perkalian, dan masih banyak lagi! Biasanya buku Optimus ini jadi buku pinjeman kesukaan anak lainnya. Gue aja seneng baca buku-buku doi ! 🙂

Dikelas, setiap hari kami punya waktu membaca. Waktu membaca ini bener-bener harus digunakan untuk membaca! Jadi nggak ada tuh yang namanya megang atau ngerjain hal lain saat waktu membaca. Gue dan seisi kelas udah sepakat kalau mereka boleh membawa segala jenis buku, asaaaallkan buku itu ada tulisannya dan bukan buku tentang permainan. Jadi buku di kelas gue memang beragam.
Karena Optimus ini suka banget baca, doi jadi cepet banget tuh melahap buku-bukunya, dan biasanya kalo bukunya udah abis dibaca, doi akan pinjem buku anak lain.
Entah komik, cerita rakyat, atau cerpen.
Belakangan ini, gue memperhatikan kalau Optimus lagi suka pinjem buku temennya. Bentuk bukunya komik.
Optimus sering datang dan menunjukkan potongan cerita di komik itu yang menurutnya menarik dan lucu. Entah tentang tokoh yang dikejar-kejar anjing, tokoh yang perutnya keroncongan karena ga mau makan, dan banyak potongan cerita lainnya.

Suatu hari, Optimus ini kesel sama gue. Karena doi merasa gue ga mau ngedengerin dia ngomong, padahal yang terjadi saat itu adalah karena gue lagi ngomong sama anak lain, sehingga gue meminta doi untuk menunggu giliran ngomong sama gue dengan cara ngasih kode pake tangan gue. Tapiiii… lama-lama doi kesel karena gue masih tetep ngobrol dengan anak lainnya, dan ga nyauitin dia yang daritadi manggil-manggil gue. Lalu….kemudian…dia bilang “Miss Stephany itu sialan ya!”
Deg…Deg..Deg.. Gue dibilang sialan sama anak umur 8 tahun….. 😦 
Buru-buru gue udahin perbincangan gue dengan anak gue yang lainnya, dan langsung ngeliat ke doi untuk ngecek apakah gue salah denger atau enggak. Saat itu, mukanya emang udah keliatan kesel banget sama gue. Gue deketin, terus gue tanya. “Kamu tadi ngomong apa?” dengan mukanya kesel, dia ulangin lagi kalimat tadi.
“Miss Stephany itu sialan ya! Ga mau dengerin aku ngomong!” Ternyata gue ga salah denger. Doi emang bilang kata itu dengan jelas.
Gue pegang tangannya, gue ajak doi duduk bareng karena gue mau tanya tentang maksud kalimat yang diucapkan ke gue itu. Tapiiiii…untuk dapet penjelasan dari doi ga semudah itu sob! Gue harus nunggu sampe doi tenang dan mau ngomong baik-baik sama gue. Gue minta doi tarik napas yang dalam beberapa kali sampai gue liat doi udah tenang, gue mulai ajak doi ngomong dengan wajah dan intonasi setenang mungkin.
Gue : Optimus, tadi ngomong apa sama miss?
Doi : *diem*
Gue : Miss lagi ngomong lho sama kamu, tadi kamu bilang apa sama miss?
Doi : Aku bilang sialan!
Gue : Kamu tau gak itu artinya apa?
Doi : *diem*
Gue : tau nggaak?
Doi : *geleng*
Gue : Terus kamu tau dari mana?
Doi : dari buku (doi nyebutin judul buku komik yang lagi sering doi baca)
((jadi ternyata doi tau kata-kata itu dari komik yang doi baca. di komik itu, wajah tokohnya keliatan kesel dan bilang “sialan”, sehingga doi menarik kesimpulan kalau kata-kata itu wajar digunakan sama orang yang lagi kesel))
Setelah mendapatkan penjelasan dan memberikan penjelasan ke doi tentang kata-kata tidak sopan itu, akhirnya doi ngerti kalau kata itu tidak pantas diucapkan, terus doi minta maaf dan janji ga akan mengulangi kata-kata itu.
Setelah kejadian ini, gue dan partner langsung membuat peraturan baru perihal buku bacaan anak-anak. Kami memutuskan untuk melarang anak membawa serial buku komik terjemahan tersebut.

Gile! sedih gue..
Buku yang doi baca itu memang komik terjemahan untuk anak-anak..
tapi masa pas nerjemahin ga pake “disaring” dulu sihh sampe kata-kata kayak gitu pun ditulis plek-plekan gitu 😦
Please atuhlah… kalau ada dari kalian yang lagi baca curhatan gue ini dan berniat bikin buku cerita untuk anak-anak, gunakanlah kata-kata yang sesuai dengan anak-anak juga yaaa.. Karena sesungguhnya mereka itu masih “menelan” mentah-mentah semua informasi yang mereka dapatkan.
Kalo informasi baik yang dicerna, maka kebaikan yang dikeluarkan..
Kalau informasi tidak baik yang dicerna? ya ketidakbaikan juga yang dikeluarkan..

Yuk kita-kita orang dewasa yang lebih mengerti tentang kebaikan ini lebih selektif lagi waktu memberikan “makanan” informasi untuk anak-anak, supaya kebaikan-kebaikan kecil akan terus timbul 🙂 🙂 🙂

Oke, sekian dulu curhatan gue malam ini.
Sampai jumpa, semoga kita bisa menulis bersama !

3 thoughts on “Optimus”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s