Tentang sebuah kisah yang belum usai.

Yang..  kemarin ku melihatmu, kau bertemu dengannya.
Yang.. k
u rasa sekarang kau masih memikirkan tentang dia..
Apa kurangnya aku didalam hidupmu? Hingga kau curangi aku..
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia.
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu..
Kau tak perlu berbohong, kau masih menginginkannya.
Ku rela kau dengannya, asalkan kau bahagia..

Yang,  ku rasa sekarang kau masih memikirkan tentang dia.
Apa kurangnya aku didalam hidupmu? Hingga kau curangi aku..
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia.
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu..
Kau tak perlu berbohong,  kau masih menginginkannya.
Ku rela kau dengannya asalkan kau bahagia..
_______________________________________________________________________________________

Menurutku semua kisah bisa berakhir, tapi tak semuanya bisa usai.
Usai dalam artian selesai, tanpa ada hal-hal yang masih tertinggal.
Entah itu percakacapan yang menggantung,
perasaan yang masih terpendam,
ataupun pikiran-pikiran yang seharusnya disampaikan.

Seringkali kisah yang berakhir itu dianggap usai agar dapat mencoba kisah baru.
Mencoba berjalan dengan ritme langkah yang berbeda,
mencoba mencari kehangatan untuk hati yang sudah menjadi dingin.
Padahal setiap jengkal ingatannya masih ada dipikiranmu,
setiap partikel harumnya masih ada di penciumanmu,
tiap nada tawanya masih ada di telingamu.
Namun kau tepis atas dasar “kisah ini sudah berakhir”.

Kemudian..
Akhirnya kau menemukan ritme yang baru, ritme yang membuatmu merasa menemukan kembali kehangatan untuk hatimu yang sudah dingin.
Kau menemukan aku.
Menemukan aku untuk ritme mu yang baru.

Kau menemukan aku,
untuk bercakap,
untuk berjuang bangkit dari kisah yang masih menenggelamkanmu.
Akupun demikian,
aku tenggelam dalam ritme mu.
Aku tenggelam dalam nada tawamu,
terbuai dalam tiap partikel harummu.
Sampai pada akhirnya saat aku menemukan matamu, aku menyadari…..
Tak ada aku disana.

Aku masih ingat bagaimana kau tersenyum melihat tingkahku,
namun saat kudapati matamu, kosong..
atau saat aku mendapatimu melihat sesuatu yang tak kupahami namun mampu membuatmu tersenyum dengan mata yang penuh arti.

Sudahlah sudahi saja kebohonganmu..
Aku tau kau tak bahagia.
Tapi bolehkah aku  bertanya sesuatu?
Apa kurangnya aku pada perjalanan ini?
Ragamu disini, tapi tidak dengan hatimu.
Apa kurangnya aku sampai kau curangi aku seperti ini…
Bagaimana caranya agar aku juga dapat memeluk hatimu?

Baiklah, mungkin aku harus menyerah.
Aku rela melepaskanmu, asalkan kau bahagia..


5 thoughts on “Tentang sebuah kisah yang belum usai.

Add yours

  1. Omg!!! Good writing. How can you this kind of long writing. So touching. Feel like being ignored by someone. Love can be so unpredictable, weird, and ridiculous. Let it be. Without love ,life means nothing. Do what you think its best for you. Never say “give up” before you make it through. Life is all about process, you can not get something instantly in the life, need efforts and faith. Looking forward for you next writing, keep it up!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: