batubarabernard:

+ sebutkan satu hal di dunia ini yang paling kamu suka sekaligus kamu benci.

– menulis.

+ lho, kenapa? bukannya kamu menyukainya?

– ya, dan membencinya sekaligus. itu, kan, pertanyaanmu tadi?

+ oke. kalau begitu, kenapa kamu benci menulis?

– melelahkan.

+ bagaimana bisa?

– ya. saat menulis, aku terpaksa menggali isi kepalaku, mengorek kenangan yang lebih banyak berisi luka dan hal-hal yang tidak ingin aku ingat lagi. mendatangi kemarahanku dan mendorong diriku dengan keras untuk mengajaknya berbicara, kalau bisa berdamai. berhadapan dengan ketakutan-ketakutanku. belum lagi harus menyediakan waktu bergulat dengan layar kosong di laptop atau halaman pucat kertas bloknot, yang seringnya berakhir dengan hasil nihil. bukannya semua itu melelahkan?

+ kalau dipikir seperti itu, iya juga. lalu, kenapa kamu tetap menulis?

– sewaktu kecil, aku tinggal di suatu desa. aku menghabiskan waktuku dengan bersekolah, tentu saja, dan membaca. bacaanku pertama-tama adalah buku komik. aku membaca banyak sekali komik. setiap minggu, aku akan meminta uang kepada ibuku untuk membeli komik. atau, aku meminta ia membelikanku. tapi komik-komik itu hanya membuatku senang membaca, tidak menulis.

+ lalu, apa yang membuatmu mulai menulis?

– novel. aku membaca novel.

+ novel apa yang kamu baca saat itu?

– aku berusia dua belas atau tiga belas tahun, ketika melihat temanku menenteng-nenteng sebuah buku. karena penasaran, aku bertanya kepadanya itu buku apa. ia menunjukkan kepadaku, dan aku membaca judulnya: ‘harry potter dan batu bertuah’. aku berkata lagi apakah aku boleh meminjamnya, dan karena temanku baik, ia meminjamiku setelah selesai membacanya.

+ novel itu yang membuatmu ingin menulis?

– kamu gemar sekali memotong.

+ maaf, silakan lanjutkan.

– aku membaca buku itu suatu pagi di hari minggu, hal pertama saat bangun tidur. hal berikutnya yang kuingat adalah aku kelaparan karena melewatkan sarapan dan makan siangku. selama berjam-jam aku hanya di kamar, membaca. aku baru berhenti ketika ibuku, untuk kali kesekian, menggedor pintu kamar dan memanggil namaku dan menyuruhku makan.

+ buku itu bagus?

– kamu belum pernah membacanya?

+ belum. memangnya harus?

– tidak juga. aku hanya sedang menjawab pertanyaanmu tadi.

+ lanjutkan kalau begitu.

– membaca buku itu, aku seakan-akan merasa sedang berada di dunia lain. dunia yang seumur hidupku belum pernah aku lihat. tentu saja ‘seumur hidup’ saat itu terhitung terlalu singkat karena aku baru dua belas atau tiga belas tahun. tapi, maksudku, aku terenyak! dengan pemandangan kastil, mobil dan sapu terbang, para penyihir. aku tersentak oleh hal-hal aneh dan ajaib yang terasa sangat nyata dalam kepalaku.

+ bagaimana hal-hal itu bisa membuatmu ingin menulis?

– apa kamu tidak melihatnya? hal-hal aneh semacam itu hanya bisa terwujud dalam tulisan! kecuali tentu saja ada cerita bahwa di masa lalu penyihir betul-betul ada dan ternyata kastil bukan sesuatu yang dikarang saja, tapi itu pengetahuan yang datang kepadaku saat dewasa. ketika aku kecil, semua yang kulihat dalam buku itu adalah ajaib!

+ apa yang kamu lakukan setelahnya?

– aku ingin menulis.

+ seketika itu juga?

– ya. aku tidak tahu dengan cara apa dan bagaimana memulainya, tapi aku ingin menulis. aku mudah bosan dengan dunia sekitarku. aku tidak tertarik dengan tempat yang aku tinggali, di dunia yang ‘nyata’ ini. aku ingin pergi ke dunia yang penuh dengan hal-hal ajaib, mustahil, seperti dunia para penyihir yang aku baca. aku ingin menciptakan dunia itu. dan satu-satunya cara melakukannya adalah dengan menuliskannya.

+ jadi, bagimu, menulis adalah menciptakan dunia baru?

– aku menyebutnya dunia alternatif. aku merasa, selalu menyenangkan kalau kita memiliki pilihan. ingin tinggal di dunia yang ini, atau dunia yang kita imajinasikan. tidak banyak orang yang beruntung memiliki pilihan dalam hidupnya, kamu tahu itu? tapi dengan menulis, setidaknya ini yang aku rasakan: aku memiliki pilihan.

+ apa kesenangan itu masih kamu rasakan sekarang?

– itu masalahnya.

+ kenapa?

– kamu tahu, seiring menjadi dewasa, tanggungjawab dan hal-hal semacamnya mulai muncul. kesenangan bukan lagi jadi tujuan, tapi jadi sesuatu yang mahal dan istimewa. kamu harus bekerja, mencari uang, menghidupimu sendiri. lalu, ketika kamu mencari uang dengan melakukan hal yang tadinya murni hanya kamu senangi, kemurnian itu pun berubah. kadang-kadang, kamu tidak bisa menciptakan dunia yang kamu senangi karena orang-orang tidak menyukainya. kamu harus membuat dunia yang orang-orang lain sukai padahal kamu tidak begitu menyenanginya. semua demi mencari uang dan menggulirkan roda hidupmu.

+ itu membuatmu benci menulis?

– aku benci bagaimana kesenanganku berubah menjadi sebentuk kompromi. saat aku sudah kelelahan memenuhi keinginan orang lain, aku sudah tidak punya energi dan minat lagi untuk mulai membangun dunia yang aku sukai.

+ kamu tahu apa pendapatku tentang menulis?

– apa?

+ menurutku, menulis itu seperti mencintai seseorang.

– ah, cinta lagi. membosankan.

+ hei, dengar dulu.

– ya, ya, maaf, teruskan.

+ kamu tidak bisa terus-terusan mencintai seseorang tanpa mengalami naik-turunnya gelombang pada perasaanmu. kita manusia, bukan robot atau malaikat. sesuatu di dalam diri kita membuat kita jadi makhluk paling dinamis sejagad raya.

– apa artinya semua ocehan soal cinta ini?

+ sekarang kamu yang gemar memotong.

– aku akan menutup mulutku. maaf.

+ maksudku, sebagaimana orang yang sedang kasmaran, ada masanya pancaran pada cintanya meredup. ini hal yang biasa saja, karena kamu pastinya tahu: waktu adalah pemudar segalanya. tapi, juga penguat. nikmati saat-saat pancaran itu pudar, lalu biarkan cahayanya menemukan kekuatannya kembali. setelah waktunya tiba, jatuh cinta lah lagi seperti kali pertama.

– menurutmu aku sedang kehilangan pancaran cinta pada tulisanku? astaga, ‘pancaran cinta’, frasa yang membuatku ingin menggaruk lidahku saat mengucapkannya.

+ mungkin saja. yang kamu perlukan hanyalah jatuh cinta lagi.

– bagaimana?

+ ingat kembali saat kali pertama kamu menemukan kesenangan itu, saat ia masih murni. sisihkan ambisi, juga keinginan-keinginan lain. sisakan hanya perasaan sederhana yang kamu dapatkan ketika kamu kecil, saat kamu membaca buku dan menemukan dunia yang amat menarik bagi kamu. pancaran cinta datang dari hal-hal yang sederhana. jangan balut ia dengan kerumitan.

– aku merasa kamu lebih paham tentang menulis daripada aku sendiri, yang adalah seorang penulis.

+ tidak. aku tidak begitu paham tentang menulis. aku hanya mengerti bagaimana rasanya jatuh cinta. dan, aku ingin kamu mengalaminya, lagi.

– jatuh cinta pada hal yang sama sekali lagi, seperti jatuh cinta pada orang yang sama.

+ rasanya menyenangkan, kan?

– ya, menyenangkan. sepertinya aku sedang merasakannya saat ini.

+ jangan menatapku seperti itu. habiskan dulu makanan kamu.

– nanti saja, aku ingin menikmati perasaan ini. aku ingin meresapi jatuh cinta sekali lagi denganmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s