Yakin Waras?

Dimasa remajanya, hampir genap 3 tahun R (pria, 36 th) hidup dipasung. Kakinya dijepit dalam sebuah pasung, yang terletak di sebuah bangunan semi permanen terbuat dari bambu, seperti kandang. Makanan dan minuman diantar oleh ibu atau saudarinya dan ditaruh dalam jangkauan tangannya. Bila buang air kecil maupun besar, ia langsung saja melakukannya. Air seni dan tinjanya akan langsung meluncur ke bawah, ke tanah, melewati sela-sela bambu yang memang dibuat tidak terlalu rapat. Bila sedang rajin dan sempat, setiap hari ibu dan saudarinya akan menyapu sisa-sisa kotorannya menggunakan sapu lidi. Tapi bila sedang repot, seminggu dua kali. Teriakan-teriakan kemarahan dan frustrasi, tidak digubris oleh keluarganya. Tetangganya yang berjarak sekitar 10 m dari rumahnya juga seharusnya masih mendengar, tetapi mereka tidak pernah mau pusing. Daripada ngamuk, lebih baik dipasung, demikian maksud mereka. Sebelum dipasung, R memang pernah 2 kali menyerang penduduk desanya. Tetapi yang kedua ini sepertinya R agak keterlaluan. Pemuda itu sampai berhari-hari di rumah sakit karena kepalanya bocor. Bila ditanya, R tidak menyesal menghajar pemuda desanya itu. Karena pemuda itu menghinanya. Ia berkata-kata dalam bahasa Jawa, yang intinya adalah ,”kamu tidak laku, tidak ada perempuan mau sama kamu. Kamu gilaaaa!”  Sekeluarnya pemuda itu dari rumah sakit, maka R dipasung, dan tinggal di kandang itu.

Saat bertemu saya di sebuah rumah sakit jiwa di Jawa Timur, dalam sebuah diskusi R bertanya, “Mbak Mona, kenapa yang dipasung dan dimasukkin ke rumah sakit jiwa cuma saya saja? Kenapa yang suka mengina, yang menipu, malah bebas berkeliaran dan punya banyak istri. Tidak ada perempuan yang mau sama saya karena saya dianggap gila. Sebetulnya siapa yang gila? Saya atau dunia ini yang gila?” Saya berkata kepadanya dengan perasaan amat sedih, “kita semuanya gila. Kamu, saya, dan dunia ini semua gila. Tapi minimal kita sadar kegilaan kita, daripada yang tidak sadar dirinya gila….”

 

 HIDUP DALAM PASUNGAN

Pernah melihat ‘pasung’? Sebuah alat terbuat dari kayu apit atau kayu berlubang yang dipasangkan pada kaki, tangan, atau leher, dengan tujuan untuk membatasi ruang gerak. Bagi kita tentu tidak terbayangkan, seperti apa hidup bertahun-tahun dalam pasungan, lengkap dengan cap ‘mental illness’ di dahi. Ini adalah sebuah realita. Bagi orang-orang yang sudah dicap ‘gila’ atau ‘tidak waras’, bukan kasih dan terapi yang didapatkan, tetapi pasungan ini. Di kota besar, yang sudah modern, pasungan ini tidak lagi terbuat dari seonggok kayu. Pasungan bisa dibuat dari stigma sosial, obat-obatan penenang, pengucilan, dan penelantaran. 

1.       Stigma Sosial

Seberapa banyak orang yang sudah dicap ‘gila’ kemudian dapat diterima bekerja dan mendapatkan nafkah seperti orang kebanyakan? Para alumnus RSJ (rumah sakit jiwa-red) begitu sulit untuk mendapatkan kesempatan berkarya dan berprestasi. Meski sudah tidak dalam keadaan terikat fisiknya, tetapi stigma telah menjadi pasungnya untuk seumur hidup. Orang yang dihukum penjara, mengetahui kapan masa hukuman akan berakhir. Dua tahun? 5 tahun? 10 tahun? Tapi orang yang distigma, dihukum tanpa batas waktu. Sebuah hukuman yang sangat mengerikan…. Untuk permasalahan gangguan mental, layakkah ‘hukuman’ itu? 

2.       Obat-obatan penenang

Apapun obatnya, selalu tidak bisa total menuntaskan persoalan. Mengapa? Karena obat dibuat untuk mengurangi atau menghilangkan gejala. Tidak cukup hanya terapi obat. Tidak cukup hanya obat untuk membuat para pasien gangguan cemas menjadi tidak cemas lagi. Tidak cukup obat untuk membuat penderita depresi menjadi pulih kembali. Seorang ibu yang menangis dengan histeris sampai melolong-lolong karena pedihnya dipaksa berpisah dengan bayinya yang berusia 6 bulan, terpaksa disuntik oleh dokter supaya tenang dan tidur, kemudian dibaringkan di ruang khusus. Perasaan sedih yang ekstrim membuat sang ibu tidak bisa mengendalikan dirinya. Apa yang terjadi begitu pengaruh obat penenang hilang? Kepedihan itu akan hadir lagi, akan menyayat lagi. Bagi kebanyakan orang, obat (termasuk psikotropika) telah menjadi pasung yang membelenggu, karena persoalan utama tidak pernah selesai.

3.       Pengucilan

Ketika membuat Pusat Aktivitas Disabilitas Intelektual, sebuah layanan bagi sahabat tuna grahita, seorang teman berkata pada saya, “Mon, jangan terlalu optimis ya, karena banyak keluarga tidak mau berinvestasi pada anak yang tuna grahita. Lebih baik berinvestasi pada anak normal.” Saat itu saya merasa sangat sedih. Apa yang dikatakan teman saya ini benar. Masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa membesarkan anak adalah ‘investasi’ (berarti pada waktunya akan menuntut kembali lebih banyak’), bukan sebuah pengabdian. Yang kedua, untuk anak-anak retardasi mental, uang sekolah Rp. 500.000,- dianggap terlalu mahal. Padahal uang sekolah di SMP swasta untuk anak ‘normal’ Rp. 1.000.000,- sebulan. Orang tua anak tersebut berkata, “ya kalau untuk yang normal ya nggak papa lebih mahal, kalo anak yang ini kan gak bisa ngapa-ngapain”. Mau nangis saya mendengarnya. Seringkali pengucilan dan pengasingan kemudian diciptakan oleh orang-orang terdekat dari sahabat-sahabat kita ini, mungkin tidak sengaja, mungkin sengaja. Mengapa? Alasan MALU yang paling banyak. Yang kedua adalah REPOT. Sebuah pasung dalam kehidupan modern.

4.       Penelantaran

Mau berjumpa dengan para sahabat gangguan jiwa yang ditelantarkan dan terlantar? Di tempat penampungan dinas sosial di semua wilayah, pasti banyak. Mereka hidup menggelandang, jalan tanpa tujuan, dan makan dari sisa-sisa orang. Di antara mereka banyak yang menjadi korban kekerasan seksual, sebagian kecil bahkan menjadi korban dari praktek jual beli organ. Pertanyaannya, siapa yang peduli? Penelantaran, ketidakpedulian, dan pembiaran, merupakan sebuah pasung modern. Mengganggu pemandangan di jalan, mereka dikumpulkan di tempat penampungan. Penuh di tempat penampungan, dioper ke rumah sakit jiwa masuk ke bangsal-bangsal kelas 3. Penuh di rumah sakit jiwa, dibawa pulang kembali ke dinas sosial. Terus berputar-putar tak kunjung  selesai. Punya keluarga? Punya. Ketika saya telepon ke keluarga tentang kondisi kerabatnya di RSJ, kerabatnya bilang, “sudah tidak sanggup, biar sajalah….”. 

 
  UKURAN KEGILAAN

Sampai saat ini, ukuran ‘kegilaan’ atau penegakan diagnosa gangguan mental, adalah berdasarkan norma. Norma dibuat dari hasil pengujian statistik, terhadap apa yang dianggap normal, dan apa yang dianggap tidak normal. Orang yang berada di persentil sekian sampai sekian, bisa dianggap normal, sedangkan yang masuk ke ekstrim kiri dan kanan dari distribusi normal, mendapatkan cap ‘tidak normal’. Memang demikianlah dunia, inilah keterbatasan kita.  Kalau 100 bertindak begini dan hanya 1 yang bertindak berbeda, itu saja sudah dicap ‘aneh’, ‘tidak biasa’. Sehingga batasan normal dan abnormal sungguh sangat konteksual, tergantung dari populasi, dari kondisi sebuah masyarakat.

Seorang pemuda direkomendasikan menjadi klien saya karena dianggap ‘tidak bisa beradaptasi dengan kehidupan bekerja’ dan ‘tidak memiliki tujuan hidup yang jelas’. Dia dianggap ‘aneh’ oleh keluarga dan teman-temannya. Sangat cerdas di bidangnya (IT), kuliah juga cemerlang. Bekerja di perusahaan IT yang bergengsi dengan gaji yang ‘wah’, tapi tidak bersemangat, sulit untuk menikmati. Aneh? Ya, bisa dibilang demikian, ia dalah kelinci pencinta damai di tengah kawanan macan yang buas. Kelinci diminta untuk menjadi macan? Tentu saja ia tidak sanggup. Ia tidak bisa dan tidak mau berkompetisi, baginya tidak penting naik jabatan atau tidak, tidak gemar bergunjing. Jadilah dia yang aneh, karena berada pada lingkungan yang sikut-sikutan, buas, dan rakus. Dialah yang harus datang terapi ke psikolog. Dialah yang dianggap ‘aneh’ dan ‘gila’. Dialah yang tersisihkan. Ketika dalam sebuah sesi sahabat ini bertanya pada saya, “ Bu Mona, jadi saya ini gila ya?”  Apa ukuran bagi sebuah KEGILAAN? Apakah sekumpulan data statistik, apakah karena terlanjur sudah dicap? Apakah karena ia berbeda lalu bisa dianggap gila?  Kalau ukuran kemampuan beradaptasi digunakan, tergantung di lingkungan mana seseorang perlu beradaptasi. Sungguh sulit membuat ukuran kegilaan, sesulit membuat ukuran kewarasan.

 
  TAKUT GILA

Seorang sahabat saya, yang kini juga sudah menjadi seorang psikolog, mengatakan, bahwa sampai saat ini (setelah ia akhirnya jadi psikolog), ia tetap takut sama orang ‘gila’. Mengapa kegilaan begitu menakutkan?

1.       Kegilaan membuat seseorang sulit diprediksi dalam bertindak

Seorang dokter muda praktek di bangsal burung. Cantik, modis, sepatu bunyi tak tok tak tok kalau lewat. Para pasien senang, ada pemandangan baru. Keesokan harinya sang dokter muda menangis, rambutnya rontok, dijambak salah seorang pasien ketika diajak bicara. Senang ada dokter cantik? Kok malah dijambak? Tidak bisa diprediksi.

2.       Kegilaan berada di luar zona nyaman kita

Terbiasa dengan apa yang normal, apa yang ‘biasa’, membuat kita tidak nyaman bila bertemu dengan orang yang ‘berbeda’. Aneh aja…tidak nyaman

3.       Kegilaan membuat kita melihat sisi tidak sempurna sosok manusia

Kegilaan mengingatkan kita bahwa manusia tidak segala-galanya. Kita punya kerapuhan, ada penderitaan, ada pengalaman buruk, ada kehampaan. Bahwa perjalanan hidup tidak selalu ‘baik-baik saja’. 


 ANEKA KEGILAAN YANG BELUM DIPASUNG

Saya ternyata menemukan, ada gejala-gejala kegilaan yang sampai saat ini masih bebas pasung. Membuat saya menyadari, mengapa sekarang banyak universitas membuat fakultas psikologi. Karena banyak yang ‘gila’ masih berkeliaran (he he he, termasuk yang nulis juga…):

1.       Berlomba menuju neraka

Tinggal di wilayah Jakarta Coret (alias pinggiran), membuat saya semena-mena menjuluki fenomena ini sebagai ‘berlomba menuju neraka’. Pergi pagi-pagi buta, pulang jauh larut malam, dari Senin sampai Jumat. Di jalan bermacet-macet ria, jadi marah-marah, pingin cepat sampai ke kantor. Di kantor kelelahan dan merasa gajinya kurang, dah cape-cape kok gaji Cuma segitu-gitu aja. Jadi malas-malasan, mengeluh, tidak berprestasi. Lalu marah-marah. Akhirnya jam kerja main FB dan ikutan group chat iseng. Bertemu dengan orang lainnya yang juga iseng, bunyinya demikian, “aku lagi horny, kita ngamar, yukkk” (maksudnya diajak making love). Karena merasa Cuma iseng, ditanggapi. Entah berlanjut entah tidak. Ketika saatnya mau naik pangkat marah-marah lagi, kok tidak dipilih. Jadi tambah tidak senang. Ketika pulang ke rumah, macet lagi di jalan, marah-marah lagi. Kalau ada orang yang menyalip mobilnya, buru-buru dia memaki, “anjing, loe!”. Sampai rumah sama sekali jauh dari gembira. Dengar berita anak-anak bandel di sekolah dan istri malahan asik bbm sama teman-temannya (jangan-jangan ikutan group iseng juga). Akhirnya malam hari istirahat sambil mengomel. Besok pagi lakukan hal yang sama lagi. Setiap hari berlomba menuju neraka. Banyak keluarga hancur karena perlombaan hidup yang seperti lingkaran setan. Suami-istri cerai, anak-anak mengalami masalah emosi, dan semua menjadi tidak bahagia. Sedang berlomba menuju neraka….

2.       Mendewakan uang dan harta serta kedudukan

  • Jual beli organ. 

Seorang anak di China ditemukan dengan mata berlumuran darah. Matanya telah diambil, menjadi korban dari praktek jual beli organ. Manusia ‘gila’ mana yang tega demi uang, membius dan mengambil mata anak-anak?

  •  Pejabat korup

 Demi uang dan pangkat, rela menggadaikan rasa kemanusiaan dan mengabaikan kepercayaan rakyat. Tentu saja aneka gangguan akan hadir bagi yang tidak setia terhadap nuraninya. Mungkin gangguan tidur, mungkin gangguan makan, mungkin gangguan cemas. Belum lagi kecenderungan narcissistic yang makin marak. Baleho-baleho dipenuhi dengan foto-foto calon pejabat yang sama sekali jauh dari tampan. Tapi tetap yakin untuk berpose. Seakan-akan semua orang bisa dibohongi bahwa yang sering muncul di baleho adalah orang yang baik. Sudah bayar mahal untuk iklan, malah dicela juga. Waduh…

3.       Menelantarkan keluarga

Ini adalah salah satu kegilaan yang mengerikan. Menelantarkan keluarga bukan hanya dilakukan dalam praktik pergi dan tidak kembali, dan tidak harus dengan cara kawin lagi. Menelantarkan bisa dilakukan dengan cara tidak peduli, tidak bertanggung jawab. Seolah-olah punya kekebalan terhadap hukum tanam dan tuai. Apa yang ditanam, itu yang dituai. Bila menanam buruk, tapi mengharapkan hasil baik, bukankah gila namanya? Bila sebagai orang tua memberikan teladan buruk, tapi mengharapkan suatu saat anaknya jadi manusia baik, menurut saya itu gila. Pasti.

4.       Semua pasti bisa

Jujur saya merasa horror bila mendengar sebuah kata penyemangat, “AYO, KITA PASTI BISAAA!” atau “bayangkan dengan jelas, tulis apa yang kamu inginkan, tempelkan gambar, sebut terus menerus, dan itu akan terjadi.” Atau slogan “menggaet pelanggan dalam waktu 3 menit”, atau “kaya dalam sekejap mata”, dan semua slogan-slogan instan. Di tengah jaman yang semakin tipis akan harapan ini, memang slogan-slogan ini seperti ‘obat kuat’ untuk menghadapi kegalauan sesaat. Setelah itu? Impotensi berkepanjangan akan terjadi. Waras adalah ketika kita menyadari bahwa setiap individu unik. Dia bisa jadi orang kaya raya dengan menjadi motivator, bukan berarti saya yang tukan becak sekarang bisa kaya dengan jadi motivator. Mengapa? Karena ada sesuatu yang alamiah sudah diberikan kepada kita, dibekali untuk kita bawa dan untuk kita kembangkan. Itulah mengapa kepribadian setiap orang begitu unik, tidak ada yang sama, meski pada anak kembar identik. Saya dan Anda masing-masing bisa menjadi sukses dengan cara berbeda di bidang yang tidak harus sama. Kalau orang bisa dapat istri secantik J-Lo, sedangkan istri anda ‘hanya’ secantik saat ini, syukurilah dia. Bahwa ia yang terbaik untuk Anda. Tidak perlu ikut seminar motivasional yang mahal-mahal. Banyak pasien RSJ masuk ke sana dengan latar belakang kekecewaan. Ada yang mencari ilmu , sudah 7 bulan puasa dan mencari ke sana kesini, akhirnya masuk ke RSJ, bukannya dapat kesaktian. Setiap orang punya cara dan keunikannya, tidak harus sama.

5.       Minta maaf lalu selesai

Saya cukup kesulitan menanamkan pada anak kedua saya, Senyuki, bahwa meminta maaf tidak berarti semua beres dan selesai. Setiap kesalahan mungkin bisa dimaafkan, tetapi tetap ada konsekuensi. Misalnya, ia mencakar muka anak perempuan tetangga kami. Karena anak itu tidak memperbolehkan Senyuki main ke taman bersama-sama (maklum, Sen memang suka menganggu anak yang lebih besar ketika bermain). Kakak itu kesakitan, wajahnya ada bekas cakar. Mami s di rumah, mendengar hal ini terjadi, Senyuki sense-nya jalan, oo, dia dalam masalah. Mami datang melolot, Senyuki buru-buru di depan mami bilang ke kakak itu, “maaf ya, kak”. Senyuki tersenyum lega, merasa aman. Selesai? Tentu tidak! Setelah minta maaf-pun kakanya pasti masih merasa perih, karena wajahnya tercakar, masih merasa marah karena diperlakukan tidak layak, masih merasa takut karena mungkins ekali Senyuki akan mengulangi di waktu mendatang. Urusan belum selesai. Senyuki punya waktu 15 menit untuk membantu membereskan semua mainan yang sudah dimainkan tadi bersama Kakak itu, dan ia tidak boleh ikut ke taman, sementara yang lain pergi ke sana. Ia perlu berjanji bahwa ia tidak akan melakukan hal tersebut di kemudian hari dan memperbaiki perilakunya. Jadi, bila ada orang (apalagi sudah dewasa), belum memiliki tanggung jawab untuk memikul akibat dari kesalahan yang dilakukan, berarti bahaya….

 
  MEREFLEKSIKAN KEWARASAN, TIDAK PUSING SIAPA YANG GILA

Daripada sibuk membicarakan kegilaan, yang daftarnya mungkin akan semakin panjang bila melihat dari kehidupan sehari-hari, bagaimana bila kita merefleksikan kewarasan? 

1.       Tidak masalah kita berbeda, karena memang tidak semua harus sama. Tidak harus sama, juga tidak harus berbeda. Bila ingin tampak berbeda dengan cara memaksa, itu juga tidak sehat. Kelinci tidak harus menjadi macan, jadilah kelinci yang baik. Macan, jangan pura-pura jadi kelinci, akan ketahuan juga tidak asli.

2.       Tindakan yang sehat, adalah tindakan yang didorong karena cinta, bukan kemarahan. Motivasi bertindak yang salah, akan membuat kita mencapai tempat akhir yang salah.

3.       Hati nurani menjadi pemimpin dan rasionalitas menjadi asisten yang baik, bukan terbalik. 

Seperti di awal, jauh lebih baik kita menyadari dan mengakui kegilaan kita, daripada kegilaan yang tidak disadari. Apa yang bisa diperbaiki, mari kita perbaiki. Yang tidak bisa diubah, mari kita terima. Selamat mencintai dan selamat berkarya!

Picture

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s