Tak Berkategori

-Hari Kesehatan Jiwa Sedunia-

Sebagai calon Psikolog dimasa mendatang, #amin saya mau mengucapkan selamat hari kesehatan jiwa sedunia ūüôā ! ya walaupun postingan ini terlambat keluarnya, tapi buat saya keterlambatan ini tidak mengurangi maknanya sama sekali.

Taun lalu, saya masih “maba”, dan belum paham dengan peringatan ini, tapi tahun ini saya sudah mulai tumbuh menjadi manusia yang sedikit banyak mulai belajar untuk memahami lingkungan dan dunia saya. ¬†

10 Oktober kemarin, HIMPSI(Himpunan Psikologi Indonesia) berkumpul di bundaran HI untuk merayakan Hari kesehatan jiwa sedunia ini, agak sedih si karena saya ga bisa ikut berkumpul bareng-bareng disana dan merasakan suasananya secara langsung. tapi sedihnya berkurang setelah googling gambar dan berita-berita kemarin dari om gugel #maksih om gugel :* . 

Seneng deh rasanya liat foto balon-balon warna-warni yang kemarin dilepas bersama-sama di bundaran HI, indah banget.. semoga kedepannya harapan akan kesehatan jiwa di Indonesia, bahkan dunia juga akan seindah itu yaa :’)

Well, meskipun tanggal 10 kemarin saya ga bisa langsung ikut serta dalam memperingati hari kesehatan jiwa sedunia tersebut, tapi hari ini saya dan sahabat saya datang ke pameran hasil karya ODMK (Orang dengan Masalah Kejiwaan) di lantai 5 Fx. 

Setelah siap-siap, saya akhirnya berangkat menuju ke tempat tersebut, mm.. ga susah dapetin spotnya, karna ga jauh dari lift yang saya gunakan untuk naik. Saat sampai di tempat, saya dan sahabat saya menulis pada buku kunjungan. Dan disana saya bertemu dengan kakak tingkat saya dikampus yang ternyata sedang KKP di tempat yang mengadakan pameran hasil karya ODMK tersebut. Setelah beberapa lama ngobrol di meja regis, si kakak tingkat itu nawarin untuk mendengar audio mengenai orang dengan schizophrenia.  Schizophrenia adalah sebuah gangguan mental yang menyebabkan seseorang menjadi berhalusinasi(penglihatan) atau berdelusi (pendengaran).

dan saya diperdengarkan audio(hasil buatan) yang menggambarkan apa yang diraskan oleh seorang wanita dengan schizophrenia yang mengalami delusi. Audio tersebut berisi banyak suara(yang sebenarnya hanya ada dalam pikiran wanita itu), dan suara rintihan dari wanita itu sendiri.

Jujur, untuk saya, suara-suara itu sangat menyiksa “udah lo mati aja, kalo ga ada lu, dunia jadi luas”, “lo ga ada gunanya disini, ngapain juga masih idup” dan banyak kalimat lain yang sangat menyiksa saya pribadi saat mendengarnya, apalagi saat mendengar wanita tersebut mulai menangis dan merintih meminta suara-suara tersebut untuk berhenti berbicara. Saya memutuskan untuk berhenti mendengarkan audio tersebut dan langsung masuk kedlam ruangan pameran.¬†

Ruangan awal pameran berisi kumpulan foto para ODMK serta lingkungan mereka. beberapa foto tersebut cukup kejam menurut saya, karna memperlihatkan bagaimana mereka diperlakukan tidak pantas bahkan oleh keluarga mereka sendiri. Beberapa foto memperlihatkan ODMK yang dipasung dengan menggunakan kayu, bahkan rantai dikaki dan tangan mereka. Perasaan saya sedih sekali melihat foto-foto tersebut. 

Foto selanjutnya yang cukup membuat saya sedih adalah sebuah foto yang berisi tempat dimana para ODMK melakukan semua aktifitasnya. Makan, tidur, bahkan (maaf) buang air. Tempat tersbut adalah ruangan terbuka yang diberi teralis besi dan hanya beralaskan lantai ubin.  Cukup prihatin melihatnya, namun itulah kenyataan yang ada. 

Lalu kemudian saya berpindah pada sebuah foto seorang laki-laki yang sedang tersenyum, laki-laki tersebut kelihatan baik-baik saja, dan saya mulai membaca keterangan dari gambar tersebut. saat saya sedang membaca keterangannya, kakak tingkat saya yang tadi ada di meja regis datang ke arah saya, dan menjelaskan gambar tersebut. Berikut kurang lebih kutipan percakapan saya dan si kakak itu.

kakak tingkat (KT) : Gue yang wawancara bapak ini, dia schizophrenia paranoid bapak ini wahamnya perang dunia ke 3

Saya diam, terus mendengarkan penjelasan dari kakak tingkat saya.

KT                : Bapak ini keadannya sudah cukup stabil, beliau bisa mengotrol delusi maupun halusinasi yang ia alami. jadi misalnya ia mau coklat, ia bisa saja menghadirkan coklat tersebut dalam bayangannya seketika itu juga, begitu juga ia dapat menghilangkan halusinasi maupun delusi yang tidak ia sukai.

Saya hanya mengangguk, mencoba membayangkan jika saya ada di posisi kakak tingkat tersebut, apa saya bisa ya berbicara dengan ODMK seperti yang ia lakukan? 

Saya                : Proses wawancara untuk dapetin inforamasi ini berapa lama kak?

KT                : Gue wawancara sama bapak ini sekitaran satu setengah jam, enak kok ngobrolnya, karna ia sudah reltif stabil jadi untuk                  berkomunikasi sudah cukup mudah, tapi ya cukup capek juga.

Saya                : Gimana caranya sampe akhirnya bisa tau waham apa yang dia punya kak?

KT                : Udah dapet mata kuliah konseling kan? Nah coba dipakai teknik konselingnya, dan yang pasti harus ada adalah empati. Dan empati itulah yang tadi gue bilang cukup capek dan sulit.

Saya                : Kenapa harus capek? kan cuma dengerin aja?

KT                : (tersenyum) Coba lo bayangin ya, kalo ada temen lo yang curhat ke lo, dengan cerita yang tidak sistematis, dengan cerita yang diulang-ulang padahal lo tau sendiri kalo cerita tersebut ga bener-bener terjadi. gimana perasaan lo? dan itu berlangsung selama satu setengah jam. Ayo coba bayangin gimana perasaannya (kembali tersenyum).

saya terdiam, mencoba membayangkan..

Saya                 : Oh iya kak, pasti bosen lah ya, jenug juga. tapi harus tetep punya empati ya?

KT                 : Iya empati adalah kuncinya, kayak yang tadi gue bilang di awal. 

Sini deh, lo liat foto yang ini. Ibu ini wahamnya mengenai kehidupan kerajaan. Jadi dia merasa dirinya harus dilayani oleh seluruh anggota keluarganya, baik anaknya maupun suaminya

saya memperhatikan foto yang ditunjuk kakak tadi, foto seorang ibu yang sedang memasak didapur, dengan menggunakan kompor minyak tanah dan peralatan masak yang sederhana.

KT : Ibu ini seorang penjual nasi uduk yang terkena schizophrenia paranoid juga, sama kayak bapak tadi. dan lo tau ga, ¬†tetangganya pada ga mau beli jualan ibu ini karna katanya takut ketularan “gila”. Lingkungan sosial ibu ini cukup ¬†mengasingkan ibu ini karna disebut “gila”.

Saya : Kalo bapak tadi dikucilkan juga ga?

KT : Bapak tadi relatif ga dikucilkan, karna tingkat ekonomi yang cukup baik, beda dengan ibu ini.

Setelah percakapan itu, saya mulai berpikir.. 

Betapa lingkungan sosial sebenarnya sangat memiliki pengaruh yang besar akan perbaikan kesehatan mental seseorang. dan materi serta status sosial dapat dengan mudah merubah sikap serta pola pikir seseorang saat bersikap. 

Saya membayangkan apa yang bisa saya lakukan untuk mereka? untuk para ODMK yang masih diperlakukan dengan tidak manusiawi, apa yang dapat saya berikan untuk mereka yang sangat membutuhkan perhatian ekstra, dan kasih sayang?

Kunjungan saya hari ini secara tidak langsung menuntut saya untuk menjadi manusia yang lebih berempati terhadap sesama, lebih memiliki kasih terhadap sesama yang membutuhkan. 

Halo semua ODMK, saya akan belajar untuk mengasihi kalian, dan saya akan terus belajar agar mampu menjadi teman bicara yang baik untuk kalian semua. 

Semangat ya kalian, jangan lupa diminum obatnya secara rutin. 

Saya mengasihi kalian :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s