hari ini kembali ke Jakarta pake kereta api . Harusnya sih ini kereta berangkat jam 10, tapi sampe 10 lewat 10 menit masih belom jalan juga.

seperti biasa, saya melakukan ritual jika sedang berada di tempat umum. keluarkan hp, dan pasang headset, putar lagu yang bisa membuat saya sedikit nyaman .

saya mendengarkan lagu sambil melihat kearah lorong gerbong kereta yang kosong, lama sekali pikir saya .

tak lama, saya melihat dia . dia yang menggunakan celana jeans sangat pendek hasil potongan alakadarnya, beserta kaus jaring-jaring berwarna putih dan rompi orange menyala serta sendal berwarna cream dengan tumit sekitar 5cm . dia datang, mendekat ke arah saya, mendatangi setiap bangku penumpang dari yang paling depan . ia bediri, bernyanyi dan mulai bergoyang. ia tersenyum. manis sekali senyumnya . saya tidak mengada-ngada, senymannya benar-benar manis. senyuman tulus yang mengembang dengan halus .

ia terus bergoyang pelan, bernyanyi di tengah lorong gerbong ini . Saya bisa melihatnya dengan sangat jelas, melihat ekspresi setiap penumpang yang dihampirinya dengan jelas.

iba, ya saya merasa iba padanya, pada pandangan yang ia dapatkan dari orang-orang ini.dari manusia-manusia yang merasa ia tak pantas berlaku seperti itu.

ibu diseberang saya menundukkan kepala dengan wajah jijik. jelas sekali wajah jijik itu ada pada wajahnya saya melihatnya, namun ia tetap tersenyum, senyum yang sama, senyum lembut manis yang sama.

ia semakin dekat dengan tempat duduk saya, dan ia tiba di tempat duduk saya. tepat berdiri di samping saya. ia tersenyum bergoyang pelan dan tetap bernyanyi. didepan saya ada pemuda ia tak berhenti menyebut kata Tuhan, terlihat dari gerak bibirnya. lalu mbak-mbak didepan saya dua-duanya tak mau menatapnya, keduanya buang muka dengan tatapan merendahkan.

ibu disamping saya melakukan hal yang sama, mereka tak melihatnya sama sekali, mereka tak menggubrisnya sama sekali.

awalnya saya tak ingin memberi uang padanya, namun ntah kenapa rasanya saya ingin tetap memberi. saya ambil selembar uang dua ribu rupiah saya tersenyum, saya berikan padanya. ia membalas senyuman saya, ia benar-benar tersenyum menatap mata saya dan mengucapkan terimakasih beberapa kali.

saya merasa ingin menangis. entah apa yang membuat saya seperti ini namun saya benar ingin menangis…
rasanya terharu, terharu dengan indah…

halo kamu, terimakasih sudah bernyanyi, terimakasih sudah tersenyum manis pada saya. jaga diri ya, tetap kuat dan tetap berusaha. kamu lebih hebat dari mereka yang ber-uang tanpa berusaha. halo kamu, jangan banyak merokok seperti itu. nanti kamu tak bisa lagi bernyanyi, dan membuat orang seperti saya merasa terharu dengan indah seperti ini .

hai kamu, aku kagum :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s