hari ini perjalanan saya ke kampus berlangsung seperti biasa. panas, macet, polusi, pengap . tap ketidaknyamanan itu berkurang dengan tempat duduk yang cukup nyaman yang saya dapatkan di dekat pintu metromini.

setelah hampir setengah perjalanan menuju kampus, ada seorang bapak-bapak usia 30an memakai kaos polos berwarna putih serta celana kain berwarna coklat yang sudah pudar warnanya naik dan berdiri di pintu depan metromini. (pasti pengamen) pikir saya dalam hati. saya , memperhatikan bapak tadi dengan seksama. penasaran dengan jenis lagu yang akan dinyanyikan oleh bapak tersebut. 

lama saya mempehatikan bapak tersebut, ia menunduk, mengeluarkan kertas yang disambungkan dengan tali plastik berwarna hitam lalu mengalungkan kertas tersebut. kertas tersebut bertuliskan dua kata yang ditulis dengan tuisan tangan yang bertinta hitam “SAYA PENGAMEN”, lalu berdiri dengan tegak dan mulai bertepuk tangan dan bernyanyi tanpa suara. 

saya tertegun, dan mulai berpikir. sebagai seorang pengamen, memiliki suara yang keras dan lantang adalah modal utama yang harus dimiliki oleh seorang pengamen metromini. bersuara keras agar dapat mengalahkan suara deru metromini serta kendaraan lain yang berebut untuk jadi yang terdepan. namun disini, pengamen yang tak bersuara ini membuat saya kembali berpikir dan tersadar, bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini selama kita mau berusaha dalam menerjakannnya. 

untuk pengamen yang tak bersuara, terimakasih telah menginatkanku :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s